InfoBontang.Id, – PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) meraih penghargaanCSR & PDB Awards 2026 dengan predikat Gold dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT).
Penghargaan ini diberikan atas kiprah Pupuk Kaltim dalammendorong pembangunan masyarakat dan desa secara berkelanjutanmelalui program Pengembangan Kawasan Terpadu BerbasisIntegrasi Sistem Agroenergi (PKT BISA).
Program PKT BISA diimplementasikan di Desa Kepuhrejo, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Program inidinilai mampu menghadirkan pendekatan pemberdayaan yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, perikanan, pengelolaan limbah, energi terbarukan, hingga pengembangan usahamasyarakat dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
Direktur Utama Pupuk Kaltim, Rafli Yandra, mengungkapkankeberhasilan PKT BISA menjadi bukti bahwa program tanggungjawab sosial dan lingkungan (TJSL) yang dijalankan secara terukurdapat memberikan dampak lebih besar ketika dirancang berdasarkanpotensi dan kebutuhan masyarakat.
“Utamanya adalah meningkatkan kapasitas masyarakat, menciptakan nilai tambah dari potensi lokal, serta membangunsistem yang dapat terus berjalan setelah intervensi program. PupukKaltim mengembangkan PKT BISA dengan pendekatan ekonomisirkular untuk memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat,” terang Rafli Yandra, Selasa (29/9/2026).
“Sejak dikembangkan pada 2021, PKT BISA secara bertahapmembangun ekosistem agribisnis yang mengintegrasikan berbagaisektor potensial di Desa Kepuhrejo. Pupuk Kaltim juga menggandeng berbagai pihak terkait dalam pengembangannya,” lanjut Rafli.
Lewat PKT BISA, Pupuk Kaltim mengolah limbah yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan menjadi sumber dayayang memiliki nilai ekonomi. Limbah peternakan dan perikanandimanfaatkan sebagai bahan baku pengolahan energi dan kompos, sementara hasil pertanian serta perikanan dikembangkan menjadiproduk bernilai tambah oleh kelompok usaha masyarakat.
Salah satu perkembangan terbaru PKT BISA yakni penguatanintegrasi sistem agroenergi melalui pemanfaatan limbah pertaniandan peternakan menjadi biogas. Energi yang dihasilkan kemudiandimanfaatkan untuk mendukung proses pengeringan hasil pertanian, kegiatan produktif UMKM, serta kebutuhan energi rumah tanggamasyarakat rentan di sekitar kawasan.
Pendekatan tersebut membuat persoalan limbah tidak lagi berhentipada aspek pengelolaan lingkungan, tetapi dikonversi menjadisumber energi yang mendukung kegiatan ekonomi masyarakat. Pemanfaatan biogas juga turut mengurangi potensi pencemaran dan emisi dari limbah organik yang sebelumnya tidak terkelola secaraoptimal.
“Prinsip yang kami dorong adalah bagaimana potensi yang ada di desa dapat saling terhubung. Limbah dari satu aktivitas dapatmenjadi input bagi aktivitas lainnya, sehingga tercipta siklus yang memberi manfaat kembali bagi masyarakat,” lanjut Rafli.
Dampak program juga terlihat dari sisi produktivitas pertanian. Pada 2025, PKT BISA berhasil mendorong petani di Babadanmeningkatkan intensitas panen hingga empat kali dalam setahun. Dalam satu periode, produksi padi mencapai 70 ton pada lahan 10 hektare (Ha), kacang tanah 5 ton pada lahan 1,1 Ha, serta jagung 81 ton dari lahan 8 Ha.
Produktivitas pertanian tersebut diselaraskan dengan program Agrosolution berupa pendampingan langsung kepada para petanibinaan, dengan total lahan yang dikelola mencapai 19,1 Ha. Pendampingan mencakup pengolahan lahan, pemupukan berimbang, pengendalian hama, hingga pengembangan usaha dan akses pasar.
“Program juga mengintegrasikan kelompok pertanian, peternakan, perikanan, kompos, serta UMKM dan kelompok perempuan dalamsatu ekosistem pemberdayaan,” kata Rafli.
Sementara itu, dari sektor peternakan, masyarakat juga didorongmeningkatkan kualitas pakan dan pengelolaan usaha. Di sektorperikanan, hasil budidaya tidak berhenti sebagai komoditas primer, tetapi dikembangkan menjadi produk olahan yang memberikan nilaitambah bagi kelompok usaha. Sejumlah produk olahan UMKM Babadan bahkan telah dipasarkan hingga luar daerah denganpermintaan yang relatif signifikan.
“Kami ingin program ini tumbuh menjadi milik masyarakat. PupukKaltim hadir sebagai katalisator, membuka akses, membangunkapasitas, dan memperkuat ekosistemnya. Selanjutnya, masyarakatbersama seluruh mitra kolaborasi menjadi penggerak utamakeberlanjutan program,” tutur Rafli.
Ke depan, Pupuk Kaltim memproyeksikan PKT BISA berkembangmenjadi Pusat Agroedukasi terpadu, sekaligus memperluas jaringanpemasaran produk masyarakat dan membuka peluang replikasiprogram di wilayah lain.
Pengembangan ini sejalan dengan peran Pupuk Kaltim dalammemperkuat ketahanan pangan, di mana PKT BISA dapat menjadisalah satu model yang menggabungkan upaya tersebut denganpengelolaan lingkungan dan energi terbarukan.
“Kolaborasi menjadi kunci dalam memastikan program pembangunan desa memiliki dampak jangka panjang. Sinergi lintassektor diperlukan untuk mengembangkan inovasi yang sesuaidengan karakteristik masing-masing wilayah. Hal ini yang akanterus kami kembangkan ke depannya,” tambah Rafli Yandra.
Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes PDT) Ahmad Riza Patria mengapresiasi kontribusiPupuk Kaltim dan perusahaan penerima penghargaan yang terusmendorong percepatan pembangunan dan pengembangan desasecara berkelanjutan.
Menurut Riza, keterlibatan dunia usaha melalui program CSR menjadi bagian penting dalam melengkapi pembangunan yang dilakukan pemerintah, khususnya dalam meningkatkan kemandiriandan kesejahteraan masyarakat.
“Kami mengapresiasi perusahaan-perusahaan yang telahmemberikan kontribusi nyata bagi pembangunan desa. Kami harapkolaborasi seperti ini terus diperkuat, karena pembangunan desamembutuhkan sinergi seluruh pihak. Kalau desanya maju, Indonesianya maju,” ujar Riza saat penyerahan penghargaan di Kantor Kemendes PDT, Jakarta, Senin (28/9/2026).
Wamendes PDT juga mendorong agar praktik baik yang telahdilakukan perusahaan dapat terus dikembangkan. Program CSR yang mampu melibatkan masyarakat secara aktif dan mengembangkan potensi lokal tidak hanya memberikan manfaatbagi warga desa, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih produktif dan berkelanjutan.
“Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat harusterus diperkuat dalam mendukung pembangunan desa. Ketika desanya maju dan berdaya, maka Indonesia pun akan semakinmaju,” tutup Wamendes Riza. (*)

