Infobontang.id, – SMP Negeri 1 Bontang mulai fokus meningkatkan kualitas pembelajaran setelah resmi menghapus sistem belajar dua shift pada 2026. Kebijakan ini dimungkinkan setelah seluruh Ruang Kelas Baru (RKB) rampung dan dapat difungsikan secara optimal.
Kepala SMP Negeri 1 Bontang, Riyanto, menjelaskan bahwa seluruh siswa kini mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam satu waktu sejak pagi hari. Menurutnya, perubahan ini tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga efektivitas proses belajar.
“Sudah digunakan, alhamdulillah semua masuk pagi,” ujarnya, Sabtu (11/04/2026).
Saat ini, total ruang kelas di SMPN 1 Bontang mencapai 27 unit. Dari jumlah tersebut, dua ruangan dialokasikan sebagai ruang multimedia guna menunjang pembelajaran berbasis teknologi. Dengan kapasitas yang ada, seluruh siswa dapat tertampung tanpa perlu pembagian waktu belajar.
Ia menjelaskan, penghapusan sistem dua shift menjadi untuk memperkuat interaksi antar siswa dan guru. Sebelumnya, sistem bergilir membuat waktu belajar terbatas dan interaksi sekolah kurang maksimal.
Selain itu, kesiapan sarana dan prasarana juga berdampak pada pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Juni mendatang. Sekolah telah menyiapkan sembilan kelas untuk siswa baru, sementara kelas VIII dan IX masing-masing terdiri dari delapan rombongan belajar.
“Nantinya siswa baru ada sembilan kelas, sementara kelas VIII dan IX masing-masing delapan rombel,” jelasnya.
Ia menambahkan, dari sisi tenaga pendidik, pihak sekolah memastikan kebutuhan guru tetap tercukupi. SMPN 1 Bontang juga menjalin kemitraan dengan SMP Monamas sebagai bagian dari program pemerintah dalam mendukung akses pendidikan, termasuk skema pembebasan biaya sekolah swasta.
“Jika ada kekurangan guru, bisa dibantu dari SMP Monamas. Begitu juga sebaliknya,” tambahnya.
Sekolah menetapkan kapasitas ideal sebanyak 33 siswa per kelas. Dengan ketentuan tersebut, total daya tampung mencapai 297 siswa. Kebijakan ini disesuaikan dengan ukuran ruang kelas 7×9 meter agar proses belajar tetap nyaman dan kondusif.
“Kalau terlalu banyak, tentu tidak ideal,” pungkasnya.
Dengan berakhirnya sistem dua shift, SMPN 1 Bontang kini menatap peningkatan mutu pendidikan yang lebih optimal, didukung fasilitas memadai dan lingkungan belajar yang lebih terintegrasi.
Penulis: Andi Syardilla

