InfoBontang.Id, – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang tidak ingin menjadikan banyaknya inovasi sebagai satu-satunya ukuran dalam menghadapi penilaian Innovative Government Award (IGA) 2026.
Bapperida memilih lebih selektif dengan mendorong inovasi yang benar-benar siap dari sisi pelaksanaan maupun kelengkapan data.
Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah Bapperida Bontang, Ade Darmawan, mengatakan masing-masing perangkat daerah telah memiliki inovasi dengan jumlah yang berbeda.
Ada perangkat daerah yang memiliki satu inovasi, sementara lainnya memiliki beberapa inovasi.
Namun, seluruh inovasi tersebut belum tentu langsung diikutsertakan dalam penilaian tahun ini.
Kesiapan bukti pendukung menjadi salah satu pertimbangan sebelum sebuah inovasi dimasukkan dalam sistem penilaian.
Dirinya mengatakan inovasi yang pelaksanaannya sudah berjalan tetapi belum didukung data secara lengkap masih dapat disiapkan untuk mengikuti penilaian pada kesempatan berikutnya.
“Yang tahun ini sudah siap saja yang kita ikutkan. Kalau tidak siap, nanti menjadi pengurang,” ujarnya, Senin (10/8/2026)
Menurutnya, setiap inovasi akan memperoleh penilaian berdasarkan data yang disampaikan. Karena itu, memaksakan inovasi yang belum siap justru dapat memengaruhi hasil penilaian secara keseluruhan.
Situasi tersebut membuat Bapperida tidak semata-mata mengejar jumlah inovasi yang masuk.
Perangkat daerah diarahkan terlebih dahulu memastikan inovasi yang diajukan memiliki dasar yang jelas, proses pelaksanaan yang dapat dibuktikan, serta dokumen pendukung yang sesuai.
Lebih jauh, dia menilai, pendekatan tersebut lebih penting daripada sekadar memenuhi jumlah inovasi.
Sebab, inovasi yang telah berjalan dengan baik di lapangan belum tentu memperoleh nilai maksimal jika data pendukungnya tidak tersedia secara lengkap.
Di sisi lain, kondisi itu bukan berarti inovasi yang belum siap dianggap tidak berhasil. Bapperida tetap melihat inovasi tersebut sebagai bagian dari proses pengembangan budaya inovasi di lingkungan pemerintah daerah.
Inovasi yang belum memenuhi persyaratan dapat diperbaiki dan dipersiapkan lebih matang untuk penilaian berikutnya.
Dengan begitu, perangkat daerah memiliki waktu untuk melengkapi berbagai kekurangan tanpa harus mengejar batas waktu secara terburu-buru.
Pun ia menyebut proses asistensi yang dilakukan Bapperida menjadi bagian dari upaya tersebut.
Perangkat daerah diberikan pendampingan untuk melihat kembali data dan bukti pendukung dari inovasi yang mereka miliki.
Menurut dia, kualitas inovasi perlu dibangun secara bertahap. Pemerintah daerah tidak hanya membutuhkan banyak program yang diberi label inovasi, tetapi juga inovasi yang dapat dibuktikan pelaksanaannya dan memiliki hasil yang jelas.
Pendekatan selektif itu diharapkan membuat inovasi yang masuk dalam penilaian IGA 2026 benar-benar memiliki kesiapan.
“Dengan demikian, setiap inovasi yang diajukan dapat memberikan kontribusi maksimal terhadap penilaian Bontang,” pungkasnya.
Penulis: Rae

