InfoBontang.Id, – Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Dispopar-Ekraf) Kota Bontang terus mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
Salah satunya melalui kolaborasi dengan PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) dalam pelatihan ecoprinting yang ditutup pada Rabu (22/7/2026).
Kepala Dispopar-Ekraf Kota Bontang, Eko Mashudi, mengatakan pelatihan tersebut menjadi langkah nyata dalam mengembangkan subsektor kriya sekaligus menciptakan produk unggulan yang dapat mendukung sektor pariwisata Kota Bontang.
Menurutnya, teknik ecoprinting merupakan metode pembuatan motif pada kain dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang berasal dari lingkungan sekitar. Berbagai jenis daun dan biji-bijian digunakan untuk menghasilkan corak yang unik tanpa menggunakan bahan kimia sintetis.
“Melalui kegiatan ini, peserta belajar membuat motif batik menggunakan bahan alami, seperti daun mahoni, daun ulin, dan berbagai tanaman lainnya yang ada di sekitar kita. Ini menjadi bentuk pemanfaatan kearifan lokal yang memiliki nilai seni sekaligus nilai ekonomi,” ujarnya.
Pelatihan tersebut melibatkan sekitar 40 mitra binaan PT Pupuk Kalimantan Timur yang berasal dari berbagai kalangan masyarakat di Kota Bontang.
Selama tiga hari pelaksanaan, mulai Senin hingga Rabu, para peserta dibekali teknik dasar hingga praktik menghasilkan produk ecoprint yang siap dikembangkan lebih lanjut.
Eko menjelaskan, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat, tetapi juga membuka peluang usaha baru di sektor ekonomi kreatif.
Menurutnya, produk kriya berbasis ecoprint memiliki potensi pasar yang cukup besar karena menawarkan ciri khas yang berbeda dibanding produk tekstil pada umumnya.
Ia menilai hasil karya peserta dapat dikembangkan menjadi berbagai produk, mulai dari kain, tas, syal, hingga aksesori yang memiliki identitas lokal Kota Bontang.
Produk-produk tersebut dinilai berpotensi menjadi suvenir khas yang dapat dibawa pulang wisatawan.
“Ekonomi kreatif memiliki hubungan yang erat dengan sektor pariwisata. Wisatawan biasanya mencari oleh-oleh yang memiliki ciri khas daerah yang dikunjungi. Karena itu, produk ecoprint berbasis potensi lokal ini sangat berpeluang menjadi suvenir khas Bontang,” katanya.
Lebih lanjut, dia berharap kolaborasi antara Dispopar-Ekraf dan PT Pupuk Kalimantan Timur tidak berhenti pada tahap pelatihan semata.
Menurutnya, dukungan lanjutan berupa pemasaran dan promosi menjadi faktor penting agar hasil karya para pengrajin dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.
Ia menginginkan para pelaku kriya nantinya mendapat kesempatan mengikuti berbagai pameran maupun kegiatan promosi lainnya sehingga memiliki akses pasar yang lebih luas.
Dengan demikian, keterampilan yang telah diperoleh dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Kami berharap ke depan kolaborasi ini bisa berlanjut hingga ke aspek pemasaran. Tidak hanya melatih, tetapi juga membantu mempertemukan para pengrajin dengan pasar melalui berbagai pameran maupun kegiatan promosi lainnya,” ungkapnya.
Eko menambahkan, seluruh peserta pelatihan telah berhasil menghasilkan karya ecoprint sebagai bentuk capaian dari proses pembelajaran selama tiga hari.
Ia berharap keterampilan tersebut terus dikembangkan sehingga mampu melahirkan produk-produk kreatif yang memperkuat identitas daerah sekaligus mendukung pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Kota Bontang.
Penulis: Rae

