InfoBontang.Id,- Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di lingkungan kerja terus menjadi perhatian berbagai pihak di Kota Bontang.
Melalui sosialisasi Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) 2026, pemerintah mendorong lahirnya lingkungan kerja yang lebih peduli, suportif, dan mampu memberikan bantuan awal bagi individu yang mengalami tekanan psikologis.
Komitmen tersebut ditunjukkan melalui penandatanganan deklarasi bersama yang melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dan instansi di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang, Selasa (23/6/2026).
Salah satu yang ikut menandatangani komitmen tersebut ialah Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Dispopar-Ekraf) Bontang, Eko Mashudi.
Dia menilai program P3LP merupakan langkah strategis dalam membangun sumber daya manusia yang tidak hanya unggul dari sisi kompetensi, tetapi juga memiliki ketahanan mental dan kepedulian terhadap sesama.
Menurutnya, kesehatan mental menjadi aspek yang tidak bisa dipisahkan dari pelayanan publik. Sebab, Dispora membawahi berbagai bidang yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, mulai dari kepemudaan, olahraga hingga pariwisata.
“Kegiatan ini sangat bagus karena berfokus pada pembinaan karakter mental dan ketahanan emosional,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selama ini luka psikologis kerap tidak terlihat sehingga sering diabaikan. Padahal, dampaknya dapat memengaruhi produktivitas, kualitas pelayanan, hingga hubungan sosial seseorang apabila tidak segera mendapat perhatian.
Karena itu, ia berharap setiap pegawai memiliki kemampuan dasar untuk mengenali tanda-tanda seseorang yang sedang mengalami tekanan mental, sekaligus memahami langkah awal yang dapat dilakukan sebelum mendapatkan penanganan profesional.
Menurutnya, penerapan nilai-nilai P3LP juga relevan dalam pembinaan atlet. Tekanan akibat target prestasi, persaingan, hingga kekalahan dalam pertandingan kerap memengaruhi kondisi psikologis atlet.
Pendampingan yang tepat, kata dia, menjadi bagian penting dalam menjaga performa sekaligus kesehatan mental mereka.
“Siapa pun bisa mengalami luka psikologis. Karena itu, kita harus bersama-sama mencegah dan membantu penanganannya,” katanya.
Tak hanya itu, pembinaan kepemudaan juga dinilai membutuhkan pendekatan serupa. Eko menyebut berbagai program Dispopar-Ekraf, seperti Duta Pelajar dan Pemuda Pelopor, tidak hanya berfokus pada pengembangan kemampuan kepemimpinan, tetapi juga menanamkan empati, kemampuan mendengarkan, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Ia berharap sosialisasi P3LP tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi budaya yang diterapkan di setiap instansi dan ruang kerja.
Dengan begitu, lingkungan kerja yang sehat secara psikologis dapat terwujud, sekaligus mendukung lahirnya generasi muda Bontang yang tangguh, peduli, dan saling menguatkan.
Penulis: Rae

